[ NOTULENSI KAJIAN DIALEKTIKA ] Implementasi Maqashid Shariah dalam Perbankan Syariah

  • By Hima Ekonomi Islam FEB Unair
  • In HIMA EKIS NEWS
  • Posted 10 Jun 2017

Pemateri : Dr. M. Nafik Hadi R,S.E.,M.Si.
Notulen : Rembrant Shella


Karakter manusia terbentuk dari nilai-nilai, norma dan agama yang berawal dari pola pikir dan berkembang menjadi sebuah perilaku yang dilakukan secara terus-menerus sehingga menjadi kebiasaan serta peradaban dalam sistem kehidupan. Belajar ekonomi Islam merupakan jihad suci yang bertujuan untuk membebaskan masyarakat dari pengaruh nilai-nilai yang bertentangan dengan Islam (pembangunan secara menyeluruh). Selain itu, melalui ekonomi Islam kita dapat memperbaiki kondisi, menegakkan hukum Islam serta menyelamatkan akhlak dan membangkitkan keluhuran dalam bidang ekonomi. Selanjutnya untuk memperbaiki kondisi perekonomian, Islam memiliki rancang bangun ekonomi Islam yang berdasar pada Al Quran, hadits, ijma’, qiyas dan dipilah menjadi tiga ajaran, yakni:

  1. Aqidah : ekonomi yang berkarakter ilaihiyah dan rabbaniyah
  2. Akhlak : Al Quran dan hadits sebagai ruh ekonomi Islam
  3. Syariah : segala sesuatu yang boleh dilaksanakan jika ada dalilnya

Ketiga hal tersebut bertujuan untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat (falah) dengan memelihara lima maqashid syariah yang terdiri dari hifdzud diin (agama), hifdzun nafs (jiwa), hifdzul „aql (akal), hifdzun nasl (keturunan), hifdzul maal (harta).

cats1

Jika bank syariah ingin menerapkan rancang bangun ekonomi Islam dalam sistem operasionalnya, maka kunci utamanya terletak pada baitul maal, menerapkan maqashid syariah, dan mengatur ZISWAF untuk menyejahterakan masyarakat.
Namun yang terjadi saat ini adalah bank syariah masih cenderung berpikir tentang tijarah daripada tabarru‟.
Bank syariah lupa akan fungsi sosial dan non-profit (fungsi baitul maal), padahal jika fungsi tersebut dioptimalkan dan berjalan dengan baik akan membantu orang-orang miskin, menciptakan lapangan pekerjaan sehingga pengangguran dapat berkurang.

Keberkahan adalah ukuran absolut. Pertumbuhan ekonomi harus dibangun melalui instrument yang halal. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam QS. Al A’raf [7]:96 yang artinya:

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai apa yang telah mereka kerjakan.”

Untuk itu dalam mengukur kekaffahan bank syariah, kita bisa melihat dari akad-akad yang dijalankan. Jika dianalisis, akad di bank syariah yang paling kaffah dan sesuai syariat adalah akad qardhul hasan, qardh, mudharabah, syirkah, ijarah, dan jual beli (salam, istishna‟, murabahah).
Selain dari akad-akad yang ada bank syariah, tolak ukur kekaffahan bank syariah dalam menjalankan syariat Islam dapat dilihat dari operasional, implementasi maqashid syariah, laporan keuangan, hokum positif, dan pelayanan yang diberikan bank syariah kepada nasabahnya.

Ekonomi bukan urusan akal semata. Hal ini tercantum dalam QS. At Thalaq [65]:10 yang artinya:

“Allah menyediakan bagi mereka azab yang keras, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang mempunyai akal; (yaitu) orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepadamu.”
Selanjutnya implementasi maqashid syariah dalam bank syariah bisa dicapai dengan pemeringkatan kebutuhan yang dibutuhkan bank syariah.

cats


  • Level dasar/ primer (dhururiyyat) harus ada atau dilaksanakan walaupun dalam kondisi darurat.
  • Level sekunder (hajiyyat) keberadaannya untuk lebih menunjang dhururiyyat sehingga apabila pemenuhan pada level hajiyyat ini belum bisa terlaksana maka keutuhan dhururiyyat tetap terpenuhi.
  • Level tersier (taksiniyyat) keberadaannya untuk menunjang pemenuhan dhururiyyat dan hajiyyat sehingga apabila pemenuhan pada level tahsiniyyat ini belum terlaksana maka keutuhan dhururiyyat dan hajiyyat harus tetap terpenuhi.

Contoh implementasi maqashid syariah dalam bank syariah dalam perlindungan agama mulai level dhururiyah, hajiytat dan taksiniyyat adalah sebagai berikut:


Perlindungan agama diukur dengan pelaksanaan rukun Islam pada level dhururiyyat, indikatornya antara lain:
a. Apakah ada dakwah untuk menyadarkan masyarakat tentang ketuhanan Allah SWT dan berapa dana yang selalu disediakan dalam setiap periode tahun bukunya.
b. Apakah ada tempat sholat dan berapa dana yang disediakan untuk pengadaan sarana dan keberlangsungan sholat tersebut dalam setiap periode tahun bukunya.
c. Apakah ada fasilitas untuk menuaikan zakat dan berapa dana zakat terkumpul dalam setiap periode tahun bukunya.
d. Apakah ada kebijakan untuk mendorong untuk menjalankan puasa dan berapa dananya untuk membantu dan menunjang pelaksanaan puasa tersebut dalam setiap periode tahun bukunya.
e. Apakah ada dorongan pelaksanaan haji dengan memberikan bantuan untuk pelaksanaan haji dan berapa dananya untuk membantu dan menunjang pelaksanaan haji tersebut dalam setiap periode tahun bukunya.


Perlindungan agama diukur dengan pelaksanaan rukun Islam pada level hajiyyat, indikatornya antara lain:
a. Apakah ada sarana dakwah misalnya alat transportasi untuk menyadarkan masyarakat tentang ketuhanan Allah SWT dan berapa dana yang selalu disediakan dalam setiap periode tahun bukunya.
b. Apakah dalam menuaikan sholat disediakan sarana berwudhu dengan air bersih dari PDAM, karpet, sandal dan sebagainya serta berapa dana yang disediakan untuk pengadaan sarana dan keberlangsungan sholat tersebut dalam setiap periode tahun bukunya.
c. Apakah dalam menuaikan zakat disediakan jasa konsultasi, penjemputan zakat, muzakki boleh menanyakan pelaporan zakat dan sebagainya serta bagaimana dampaknya terhadap peningkatan pengumpulan dana zakat terkumpul dalam setiap periode tahun bukunya.
d. Apakah ada kebijakan untuk mendorong untuk menjalankan puasa dengan khusuk dan tenang dengan memberikan fasilitas khusus misalnya penyediaan buka puasa dan pemberian waktu khusus untuk berbuka puasa serta berapa dananya untuk pelaksanaan kebijakan tersebut dalam setiap periode tahun bukunya.
e. Apakah ada tunjangan khusus untuk pelaksanaan haji dan berapa dana tunjangan tersebut dalam setiap periode tahun bukunya.

Perlindungan agama diukur dengan pelaksanaan rukun Islam pada level tahsiniyat, indikatornya antara lain:
a. Apakah ada sarana dakwah misalnya alat transportasi yang ber-AC, sopir dan sebagainya untuk menyadarkan masyarakat tentang ketuhanan Allah SWT dan berapa dana yang selalu disediakan dalam setiap periode tahun bukunya.
b. Apakah dalam menuaikan sholat disediakan sarana berwudhu dilengkapi handuk, tempat sholat ber-AC dan sebagainya serta berapa dana yang disediakan untuk pengadaan sarana dan keberlangsungan sholat tersebut dalam setiap periode tahun bukunya.
c. Apakah dalam menuaikan zakat disediakan jasa konsultasi ke rumah, penjemputan zakat dimana saja muzakki selama masih eknomis, sarana perbankan dalam berzakat, pelaporan zakat dikirimkan kepada para muzakki dan sebagainya serta bagaimana dampaknya terhadap peningkatan pengumpulan dana zakat terkumpul dalam setiap periode tahun bukunya.
d. Apakah ada kebijakan memberikan tunjangan atau reward bagi bagi mereka yang berpuasa tetapi memiliki kinerja yang lebih baik daripada mereka yang tidak berpuasa serta berapa dananya untuk pelaksanaan kebijakan tersebut dalam setiap periode tahun bukunya.
e. Apakah ada tunjangan khusus untuk pelaksanaan haji dengan fasilitas lebih baik daripada haji pada umumnya misalnya haji plus dan sebagainya serta berapa dana tunjangan tersebut dalam setiap periode tahun bukunya.

Ditulis oleh Evi Aninatin Ni’Matul Choiriyah
Staff Divisi Keilmuan
Himpunan Mahasiswa Ekonomi Islam
Universitas Airlangga

Tags :
Hits 190